Daerah

Selasa, 19 Januari 2021 - 12:55 WIB

3 tahun yang lalu

logo

33 Bencana Terjadi Selama Januari, Kerugian Materi Capai Rp 1,6 Miliar

33 Bencana Terjadi Selama Januari, Kerugian Materi Capai Rp 1,6 Miliar

Kota Batu –  Selama bulan Januari peristiwa bencana terjadi sebanyak 33 peristiwa. Musibah tanah longsor masih jadi dominan terjadi di Kota Batu.

Ancaman bencana rawan terjadi ketika memasuki musim hujan. Terlebih pada musim hujan kali ini disertai fenomena la nina. Dibanding tahun lalu, curah hujan harian lebih tinggi. Musim hujan kali ini curah hujan harian di Kota Batu bisa mencapai 300-500 milimeter.

Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Kota Batu, Achmad Choirul Rochim mengatakan rentetan bencana terjadi sejak awal Januari hingga 18 Januari.

Bencana longsor masih mendominasi, lantaran topografi Kota Batu dikelilingi perbukitan. Bencana lainnya yakni banjir dan ambrolnya plengsengan. Diketahui, musibah longsor terjadi terjadi sebanyak 26 kejadian. Banjir luapan 4 kejadian dan plengsengan ambrol 3 kejadian.

“Untuk dampak yang ditimbulkan ada beberapa. Mulai dari plengsengan ambrol, rumah rusak, hingga drainase rusak. Secara material seluruh kerugian diperkirakan mencapai Rp 1,6 miliar,” ujar Rochim.

Perbaikan dari dampak kerugian itu menelan anggaran Rp 2,9 miliar. Anggaran perbaikan dikucurkan melalui anggaran belanja tidak terduga (BTT) yang tahun ini dialokasikan sebesar Rp 10,8 miliar.

Selama terjadi bencana di bulan Januari, pihaknya mencatat nilir adanya korban. Hanya kerugian material karena berdampak pada bangunan fisik seperti rumah atau plengsengan atau saluran irigasi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mencatat selama bulan Desember 2020 lalu, terjadi 25 bencana alam. Dengan mayoritas kejadian bencana longsor.

Untuk menghindari adanya korban akibat bencana yang terjadi. BPBD Kota Batu melakukan tindakan kesiapsiagaan dengan menargetkan 15 unit pemasangan alat early warning system (EWS) pendeteksi tanah longsor.

Sementara itu, ditambahkan oleh Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu untuk mengantisipasi adanya korban ketika terjadi bencana longsor. BPBD Kota Batu tahun ini menganggarkan enam alat EWS.

Saat ini Kota Batu telah memiliki empat unit EWS. Sedangkan untuk kebutuhan 15 unit. Artinya BPBD masih membutuhkan sembilan alat pendeteksi longsor.

“Karena itu kami mengajukan enam alat pendeteksi longsor tahun 2021. Pengadaan dilakukan secara bertahap. Enam alat tersebut nantinya akan dipasang di pada desa/kelurahan yang rawan terjadi longsor. Seperti permukiman yang disekitarnya terdapat daerah lereng,” bebernya.

BPBD memetakan beberapa daerah yang rawan longsor seperti di Kecamatan Bumiaji meliputi Desa Sumber Brantas, Tulungrejo, Gunungsari, Sumbergondo. Selain itu, satu titik berada di kawasan payung, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu.

“Alat ini nantinya akan mengidentifikasi pergerakan tanah yang dideteksi oleh kabel baja ekstensometer. Sehingga ketika ada pergeseran tanah, alarm akan berbunyi,” ungkapnya.

Untuk harga per unit EWS membutuhkan anggaran sekitar Rp 110 juta. Dengan rincian ekstensometer sekitar Rp 55 juta dan warning sistemnya sekitar Rp 47 juta.


Reporter : Hadi

Redaktur : Rizchi Hari Setiawan 

Artikel ini telah dibaca 139 kali

Baca Lainnya