Lifestyle

Rabu, 17 Februari 2021 - 13:17 WIB

3 tahun yang lalu

logo

Kisah Perempuan Asal Blitar Aduh Nasib di Kota Udang

Sidoarjo | Klikku.net – Kisah perempuan dan dunia lembah hitam daerah kota udang Sidoarjo, sebut saja Rara ( bukan nama asli ) asal kota Blitar, cerita ke’awak media Selasa, 16/2/2021 tentang hidupnya mengadu nasib ikut jualan diwarung makan sampai jadi pelacur, menjajakan kenikmatan ke para hidung belang di semak-semak belukar sekitar stasiun krian Sidoarjo dan berakhir dengan buka warkop sendiri.

Berawal dari perceraian rumah tangga dan meninggalnya kedua orang tua Rara dan mantan Suaminya yang kebetulan hanya tetangga Desa. Dengan rasa tidak ingin melihat mantannya dirumah setiap hari, Rara akhirnya memilih untuk mencari kerja agar bisa mencari kehidupan yang baru juga bisa membiayai anak perempuannya.

Sebulan setelah melahirkan bayi perempuannya akhir tahun 2014. Rara menerima tawaran dari orang yang dikenalnya untuk kerja disebuah warung makan di Sidoarjo. Dengan iming – iming gaji Rp. 800 Ribu sebulan dengan harapan bisa buat kebutuhan anak bayinya yang masih usia 1 bulan lebih.

“Saya waktu itu sangat senang mas karena uang 800 ribu bagi aku banyak dan bisa buat kebutuhan anak aku mas”. Senangnya Rara saat menerima pekerjaan sebagai pembantu di warung makan.

Sampai di pekerjaan warung tersebut rarapun selama 1 tahun lebih tidak pernah mendapatkan gaji Rp. 800 ribu, melainkan hanya dapat makan dan susu buat anaknya yang masih bayi.

“Aku dulu kerja diwarung di krengseng itu gak pernah dapat gaji mas, hanya dapat makan dan susu anak aku saja. Tidurpun aku setiap hari diwarung”. Rasa sedihnya Rara.

Masih kata Rara menceritakan tentang berhentinya kerja diwarung dan kost sendiri sambil menjual gorengan dan camilan dengan dititipkan ke warung kopi (Warkop) di daerah wilayah Krian.

“Aku nekat berhenti dan cari kost sendiri mas, sambil menjual gorengan dan camilan aku titipkan di warkop – warkop di daerah Krian sini mas”. Ujar Rara

Tepat dimalam tahun baru 2017 memasuki usia 29 tahun. Rara dengan keadaan tidak bisa memenuhi kebutuhan sendiri apalagi dengan kebutuhan anak bayinya. Dia akhirnya dengan sedikit menangis dalam hati mengikuti jejak temannya yang dulu ada di lokalisasi krengseng, untuk jadi pelacur atau wanita pemuas para lelaki hidung belang. Dan melayani 17 para hidung belang dalam semalam.

“Pas tahun baru 2017 mas, aku gak punya uang sama sekali, kebetulan teman aku mengajak untuk melayani tamunya, dengan menahan hati yang pedih aku terpaksa jual tubuhku kelelaki hidung belang itu dengan tarif sekali main Rp. 150 Ribu mas. Kebetulan malam tahun baru aku melayani 17 lelaki dengan sedikit sakit dipaha aku dan sampai pulang setelah adzan subuh”. Ujar Rara.

Sering mendapatkan uang banyak dalam semalam paling sedikit mendapatkan Rp. 750 Ribu akan tetapi tidak bisa menabung dengan adanya anak yang sering sakit.

“Saya kerja melacur di stasiun paling sedikit semalam mendapatkan Rp. 750 Ribu mas tapi gak barokah mas, ada saja anak sakitlah pokok’e banyak mas masalah gak iso lumpuk – lumpuk (gak bisa nabung)”. Sedihnya Rara

Rara menambahkan, selama setahun lebih berprofesi sebagai pelacur atau bisa dibilang pemuas nafsu lelaki hidung belang akhirnya menemukan lelaki yang sebelumnya pelanggan tetap, untuk kerja mandiri lebih layak, membuka warkop di sebuah lapak di daerah pasar Krian baru.

“Sedikit banyak aku bersyukur mas, karena aku di entas (diambil dari dunia kepelacuran) sama pelangganku, aku dicarikan lapak untu buka warkop walau tidak seberapa hasilnya tapi masih bisa buat tabungan anak aku mas”. Tambahnya Rara.

Dengan warkop yang sepi pun aku mensyukuri, karena aku masih bisa menyisihkan hasil yang sedikit tapi barokah mas.” Pungkasnya.


Reporter : Yuli

Editor : Setya

Artikel ini telah dibaca 404 kali

Baca Lainnya