Kesehatan

Selasa, 23 Februari 2021 - 01:52 WIB

4 bulan yang lalu

logo

RSI Surabaya Uji Cobakan Alat Test Covid-19 i-nose c-19 ITS 

Surabaya | klikku.net – Setelah didemokan di Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). i-nose c-19 yakni alat inovasi canggih untuk skrining Covid-19 yang dikembangkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, mulai diujicobakan di sejarah mlah rumah sakit di Surabaya.

Hal ini ditandai dengan penyerahan 4 (empat) alat i-nose c-19 ke Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari Surabaya, Senin (22/2/2021).

Dalam kegiatan itu, tim ITS yang dihadiri Prof Riyanarto Sarno selalu pengembang i-nose c-19, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITS Prof Muhammad Nuh, dan Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Agus Muhamad Hatta, disambut langsung Direktur Utama RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka.

Dalam sambutannya, Prof Muhammad Nuh mengungkapkan, bahwa kegiatan ini merupakan tahap lanjut dari pengujian i-nose c-19.

“Saat ini merupakan tahap pengambilan sampel dan melakukan pengujian di beberapa rumah sakit. Selain di RSI Jemursari dan RSI Ahmad Yani, kami juga bekerja sama dengan RSUD dr Soetomo dan National Hospital. Inovasi baru bisa punya makna, ketika sudah bisa dipakai di publik. Makanya,, ini saatnya buat i-nose untuk diujikan ke publik,” ujarnya.

Sementara itu, sebagai Principal Inventor, Prof Riyanarto Sarno juga menyampaikan perhatiannya pada masa pandemi, yang menuntut untuk segera menghadirkan inovasi baru.

Namun, guru besar Teknik Informatika ITS ini juga menegaskan, bahwa inovasi alat skrining Covid-19 melalui bau keringat ketiak ini bukan sebagai pengganti tes swab PCR.

“i-nose c-19 hanya alat skrining atau deteksi awal Covid-19, sebelum seseorang melakukan swab PCR. Atau sebagai alat alternatif untuk mempercepat proses skrining. Apalagi cara kerja i-nose c-19 juga berbeda dengan rapid test berbasis antibodi maupun rapid antigen,” papar Ryan.

Meski begitu, Prof Ryan mengklaim bahwa efektivitas i-nose c-19 saat ini sudah mencapai minimum 91 persen. “Dengan semakin banyaknya sampel yang diuji cobakan pada alat ini. Diharapkan nantinya semakin dapat membantu keakuratannya,” ungkapnya.

Cara kerja i-nose c-19 yakni mendeteksi bau yang berasal dari Volatile Organic Compound (VOC) yang terdapat dalam keringat ketiak. Pengambilan sampel dilakukan dengan menghisap bau keringat melalui selang kecil.

Lalu disalurkan ke deretan sensor (sensor array) pada i-nose c-19. Setelah itu, gas bau tersebut diubah menjadi sinyal listrik dan diolah menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Karena itu, dibutuhkan banyak uji coba dengan berbagai macam orang dengan kondisi tertentu. Seperti orang yang terkena penyakit TBCx namun negatif covid. Atau orang yang positif covid, namun tidak ada gejala dan lain sebagainya. Dalam hal ini, akan menambah keakuratan dan keefektifan dari alat tersebut.

Sementara itu, Dirut RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka menyambut baik hibah i-nose c-19 ini. “Dengan tes swab PCR yang ada saat ini, sebenarnya sudah mudah bagi masyarakat untuk mengetahui hasil positif atau negatif Covid-19. Namun tidak semua orang bisa mengeluarkan biaya besar, untuk melakukan tes yang harganya masih terhitung mahal. Hadirnya i-nose c-19 menjawab kebutuhan ini,” tandasnya.

Nantinya, empat alat i-nose c-19 ini akan diletakkan di ruang rawat inap dua unit dan di ruang rawat jalan dua unit. “RSI beruntung karena dilibatkan dalam penelitian ini. Kedepannya, diharapkan i-nose c-19 bisa dijadikan tools karena murah dan cepat,” pungkasnya.


Reporter: M Faaza

Editor: Joe Meito

Artikel ini telah dibaca 114 kali

Baca Lainnya