Ekonomi Bisnis Nasional

Rabu, 31 Maret 2021 - 02:02 WIB

3 tahun yang lalu

logo

Meski Sudah Swasembada Mobil, Eksistensi Industri Otomotif Indonesia Terancam Pandemi Covid-19

Jakarta | klikku.net – Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Yohannes Nangoi menyampaikan, saat ini Indonesia sudah swasembada mobil.

Dari total kebutuhan domestik, sekitar 90 persennya disuplai dari pabrik domestik. Dan sekitar 80 persennya, sudah menggunakan bahan baku lokal. Bahkan, Indonesia sudah mampu mengekspor 330 ribu mobil per tahunnya ke berbagai negara, termasuk ke Jepang.

“Jika anda ke luar negeri, lalu melihat ada mobil Xpander, Isuzu Traga, atau kendaraan sejenis Daihatsu GranMax. Itu semua dari Indonesia, karena pabriknya hanya ada di Indonesia,” ujar Nangoi, dikutip dari laman Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Dari kapasitas produksi kendaraan sebesar 2,4 juta per tahun, Nangoi menyatakan bahwa penjualan mobil mencapai kisaran 1,5 juta per tahun. Terdiri dari 1,2 juta untuk pasar domestik dan sekitar 330 ribu untuk diekspor.

Namun, imbas pandemi, total penjualan pada 2020 anjlok menjadi hanya sekitar 700-an ribu mobil. Terdiri dari 530 ribu untuk pasar domestik dan 200-an ribu untuk diekspor. Sementara di triwulan pertama 2021, penurunan penjualan mobil masih menunjukkan tren yang berlanjut.

Jika kondisi ini terus berlanjut. Bukan hanya PHK bisa terjadi. Namun eksistensi bisnis sektor otomotif pun, turut terancam.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bekerja di berbagai area, termasuk mendorong konsumsi masyarakat dan menyokong dunia usaha.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, anggaran insentif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) kendaraan bermotor, diperkirakan mencapai Rp2,99 triliun.

Pemerintah berharap insentif dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Sehingga mendorong perbaikan pada industri otomotif, dan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami memang sengaja mendesain agar front loading. Tujuannya untuk memacu confidence dan secara simultan bisa meningkatkan pemulihan ekonomi,” ujarnya.

Sebagai informasi, pada 2019 industri otomotif berkontribusi 3,98 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nonmigas.

Sektor padat karya ini, mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Yakni 1,5 juta orang pekerja langsung dan 4,5 juta tenaga kerja tidak langsung.

Rantai pasok sektor ini juga sangat luas. Terdapat sekitar 7.451 pabrik penghasil produk input untuk industri otomotif di Indonesia. (M Faaza) 


Editor: Joe Meito

Artikel ini telah dibaca 401 kali

Baca Lainnya