Daerah Pemerintahan

Sabtu, 25 Juni 2022 - 04:05 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Mufakhom, A.Md.I.P., S.H., M.Si Karutan Kelas II B Bangkalan.

Foto : Anam klikku.net dok.

Mufakhom, A.Md.I.P., S.H., M.Si Karutan Kelas II B Bangkalan. Foto : Anam klikku.net dok.

Rutan Kelas II B Bangkalan Over Penghuni Anggaran Mamin Bengkak

Bangkalan | klikku.net –Kondisi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas ll B di Kabupaten Bangkalan, Madura, Provinsi Jawa Timur, saat ini cukup memprihatinkan. Pasalnya, kapasitas tampung yang idealnya cukup dihuni oleh 116 orang, sekarang malah menampung 376 Narapidana dan Tahanan.

Akibat over kapasitas, Napi maupun tahanan harus tidur berdesakan di dalam Rutan yang dibangun sejak Tahun 1.900 yang lalu oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

“Disini (Rutan) kapasitas idealnya itu 116 (penghuni) tapi sekarang terisi 376, belum yang di Polres masih ada 23 orang biasanya mereka ngirim 2 Minggu sekali kemarin ngirim 17 orang. Jadi pokoknya yang sudah A3 (pelimpahan pengadilan) itu nanti dikirim kesini,” ungkap Kepala Rutan Bangkalan Kelas II B Mufakhom A.Md.I.P S.H M.Si, Jum’at (18/06) kemarin.

Mufakhom juga menjelaskan mengenai tipe-tipe kamar yang ada di Rutan serta tidak adanya rehab khusus narkoba. Ia juga menuturkan bahwa bangunan rutan tersebut masih menggunakan bangunan lama milik Belanda

“Untuk kamarnya itu berbeda-beda, karena kami ini tipe kamarnya berbeda-beda ada yang kamarnya tipe kecil, agak besar dan ada yang besar sekali jadi kami menyesuaikan luasnya kamar. Ini kan masih bangunan Belanda, kami tidak bisa melakukan rehab karena rehab itu dasarnya di putusan pengadilan. Kalau yang dilaksanakan di lapas itu ada rehab khusus untuk narkoba di Pamekasan itu ada anggaran sendiri, karena kami sebenarnya rutan disini bukan lapas jadi tidak ada program rehabilitasi untuk program itu,” terang Mufakhom.

Selain itu Karutan juga menambahkan, bahwa semakin banyaknya tahanan maupun napi yang menghuni rutan tersebut maka mereka akan tidur berdesakan dan makin menambah anggaran makan dan minumnya.

“Kasihan napi atau tahanan tidur berdesak-desakan, untuk makan dan minum (Mamin) mereka sehari 3 kali kalau mereka tidak diberi makan bisa-bisa mereka berontak/demo. Sedangkan anggaran untuk Mamin kita sedikit karena anggaran itu hanya cukup untuk 150 orang namun sekarang jumlahnya 376 orang,” jelas Mufakhom pada media ini.


Editor : Redaksi 

Reporter : Arif

Artikel ini telah dibaca 125 kali

Baca Lainnya