Ekonomi Bisnis Pemerintahan

Jumat, 20 Oktober 2023 - 19:39 WIB

7 bulan yang lalu

logo

BI Jatim Minta Waspadai Faktor Resiko Kenaikan Inflasi Jelang Akhir Tahun 2023

Surabaya | klikku.net – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak berharap adanya mekanisme yang dapat digunakan secara cepat dalam menghadapi inflasi.

Hal itu ia sampaikan, saat menghadiri High Level Meeting (HLM) dan Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Dalam Rangka Jelang Akhir Tahun 2023, di Hotel Vasa Surabaya, Jumat (20/10).

Emil mengatakan, sebagai provinsi produsen utama komoditas pangan nasional, Jawa Timur dihadapkan pada dilema tingkat inflasi yang disebabkan oleh komoditas pangan. Sebab, data BPS Jatim menyatakan, tingkat inflasi bulanan Jawa Timur sebesar 0,32% (m to m), dengan komoditas beras menyumbang inflasi sebesar 0,29%.

“Jawa Timur adalah produsen beras. Kita swasembada dan ada surplusnya. Dan kita tidak bisa melarang orang luar Jawa Timur, untuk makan beras kita. Karena ini Indonesia,” ujarnya.

“Jika daerah lain kekurangan stok. Maka mereka mengambil barang dari Jawa Timur. Untuk itu, seluruh sendi dari m produsen hingga ke pasar, harus terkoneksi dan terpantau,” tambahnya.

Emil menambahkan, kenaikan harga dapat terpicu oleh berbagai hal. Seperti kenaikan harga produksi, hingga kelangkaan bahan. Untuk itu, ia minta pertemuan HLM ini, dapat melahirkan sistem yang dapat menyelesaikan masalah tersebut.

“Saya minta agar ada mekanisme untuk gerak cepat, manakala terjadi kenaikan harga. Jadi daerah yang harganya tinggi, bisa mendapat manfaat dari daerah yang harganya lebih rendah, kalau memang masih surplus,” ungkapnya.

Sementara itu, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur mencatat, ada sejumlah faktor yang menjadi pemicu kenaikan inflasi tahun ini.

“Jika dibiarkan, ada risiko inflasi akhir tahun yang diperkirakan sebesar 3,5 %,” ujar Kepala KPw BI Jatim Doddy Zulverdi.

Doddy menambahkan, sejumlah faktor risiko yang mampu memicu kenaikan inflasi, diantaranya adalah kenaikan harga minyak dunia, El-Nino yang tidak bisa dikendalikan, serta masalah struktural, seperti produktifitas dan distribusi.

“Secara musiman, pola grafik inflasi selalu naik saat akhir tahun. Ini harus diwaspadai. Karena meski secara keseluruhan, inflasi Jatim tahun depan diperkirakan masih tetap rendah sebesar 2,5%. Namun, berbagai faktor resiko itu, bisa meningkatkan inflasi di Jatim. Ini yang perlu kita waspadai,” ungkapnya.


 

Artikel ini telah dibaca 534 kali

Baca Lainnya