Hukrim

Jumat, 16 Februari 2024 - 18:17 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Karena Dianggap Sering Rewel, Batita Di Surabaya Disiksa Hingga Tewas

Surabaya | klikku.net  – Satreskrim Polrestabes Surabaya mengamankan pelaku penganiayaan terhadap batita, yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Menurut Kasat Reskrim AKBP Hendro Sukmono, pelaku berinisial RS (27) mengaku melakukan hal tersebut lantaran jengkel melihat korban yang masih berusia 2 tahun lebih itu, sering rewel dan buang air sembarangan.

“Pelaku ini merupakan pacar dari ibu korban. Kami amankan di kamar kosnya di Jalan Kutisari Utara Surabaya”, ujar Hendro, Jumat (16/2).

Dia menambahkan, pelaku menganiaya korban, saat SF, ibu korban, pergi bekerja.

“Awalnya RS membantah telah melakukan penganiayaan. Namun setelah kami periksa secara intensif, akhirnya dia mengaku”, ungkapnya.

Hendro menjelaskan, kecurigaan polisi terhadap RS didasari pada keterangan ibu korban. Sebab, saat kejadian pelaku tidak mau mengangkat panggilan video call.

“Sementara saat ditelpon biasa. Diangkat oleh pelaku. Jadi saat itu ibu korban ingin mengetahui keadaan korban. Yang dijawab oleh pelaku, bahwa korban sedang tidur”, ucapnya.

Usai pulang kerja, sang ibu melihat pelaku sedang tidur bersama korban. SF curiga, karena di samping sang anak ada kotoran buang air besar, dan korban tidak bisa dibangunkan.

“Kemudian SF membangunkan RS, dan menanyakan kanapa anaknya tidak bisa dibangunkan & penuh lebam. Namun pelaku menjawab tidak tahu, dengan alasan karena sedang tidur,” tutur Hendro.

Keduanya akhirnya membawa korban ke rumah sakit. Namun, dokter menyatakan bahwa korban sudah meninggal dunia.

“Kabar meninggalnya korban, disampaikan SF kepada SA, suami sekaligus ayah korban. Antara SF & SA sudah pisah rumah sejak Januari 2024. Melihat kondisi jenasah anaknya, SA merasa ada yang janggal. Hingga melaporkan kejadian ini pada kami”, tambahnya.

Hasil autopsi, menunjukkan korban mengalami patah tulang tengkorak belakang, pendarahan pada otak dan perut, serta pembekuan darah di jantung.

Atas perbuatannya, polisi menerapkan pasal berlapis untuk pelaku. Mulai Pasal 80 ayat 3 juncto Pasal 76 C UU 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun.

Dan atau Pasal 338 KUHP ancaman maksimal 15 tahun dan atau Pasal 340 KUHP dengan ancaman maksimal 20 tahun atau seumur hidup.


@Nt

Artikel ini telah dibaca 181 kali

Baca Lainnya